Lingkungan Bumi Baru

individual-eschatology12 menit baca

1. Pendahuluan

Eskatologi Alkitab mengajarkan bahwa tujuan akhir umat manusia yang ditebus bukanlah keberadaan non‑material di suatu “surga” yang samar, tetapi kehidupan berwujud di bumi yang baru di bawah langit yang baru. Penglihatan klimaks dalam Wahyu 21–22 menggambarkan lingkungan dari ciptaan yang diperbarui ini: struktur fisiknya, atmosfernya, terang yang meneranginya, ekosistemnya, dan kota pusatnya, yaitu Yerusalem Baru.

Artikel ini berfokus secara khusus pada lingkungan bumi yang baru—seperti apa keadaannya sebagai suatu tempat—dan bagaimana kaitannya dengan langit yang baru dalam keadaan kekal.


2. Langit yang Baru dan Bumi yang Baru sebagai Kosmos yang Diperbarui

2.1 Suatu Tatanan Ciptaan yang Baru

Yohanes menulis:

“Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu”
— Wahyu 21:1

Ungkapan “langit yang baru dan bumi yang baru” (bdk. Yesaya 65:17; 66:22; 2 Petrus 3:13) menunjuk pada suatu tatanan ciptaan yang diperbarui, yang berbeda dari kosmos sekarang yang telah jatuh. Petrus berbicara tentang langit dan bumi yang sekarang ini dihancurkan oleh api, sehingga “langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur‑unsurnya akan hangus dalam nyala api” (2 Petrus 3:12). Baik kita menekankan penciptaan ulang total maupun transformasi radikal, hasilnya adalah lingkungan yang secara kualitatif berbeda:

  • Tatanan yang lama “telah berlalu” (Why 21:1,4)
  • Tatanan yang baru adalah tempat “kebenaran berdiam” (2 Ptr 3:13)

Istilah “langit” dalam Wahyu 21:1 di sini menunjuk pada langit kosmis—cakrawala dan ruang angkasa berbintang di atas bumi—bukan tempat kediaman Allah. Penglihatan ini menggambarkan lingkungan ruang yang baru di atas dan di sekitar bumi yang diperbarui, membentuk alam semesta yang terpadu dan harmonis.

2.2 Dunia Tanpa Laut

Sebuah pernyataan geofisik yang mencolok segera muncul:

“dan lautpun tidak ada lagi.”
— Wahyu 21:1

Ketiadaan laut menandai perbedaan lingkungan yang mendasar dari bumi sekarang, yang sebagian besar tertutup lautan.

Ini kemungkinan menunjuk pada:

  • Tidak ada samudra luas yang memisahkan dan mendominasi permukaan bumi
  • Tidak ada air yang kacau, berbahaya, dan mengancam (dalam gambaran Alkitab, laut sering melambangkan ancaman, kegelisahan, dan pemisahan)

Karena itu, bumi yang baru digambarkan sebagai lingkungan daratan yang sepenuhnya layak huni dan menyatu, tanpa penghalang samudra luas yang memisahkan bangsa‑bangsa dan wilayah‑wilayah.


3. Atmosfer dan Terang di Bumi yang Baru

3.1 Berakhirnya Malam dan Kegelapan

Dalam keadaan kekal, kegelapan dan malam disingkirkan untuk selama‑lamanya:

“Dan malam tidak akan ada lagi.”
— Wahyu 21:25; bdk. 22:5

Lingkungan bumi yang baru senantiasa diterangi. Malam, dengan segala asosiasinya terhadap bahaya, ketakutan, dan keterbatasan, dihapus sepenuhnya dari pengalaman manusia. Hal ini bukan berarti tidak ada waktu (masih ada penyebutan “bulan‑bulan” dalam Why 22:2), tetapi berarti dihapuskannya siklus kegelapan sebagaimana kita kenal sekarang.

3.2 Tidak Perlu Matahari atau Bulan

Yohanes menambahkan:

“Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.”
— Wahyu 21:23

Ini tidak harus dimengerti sebagai penyangkalan keberadaan benda‑benda langit dalam langit yang baru, tetapi menyatakan bahwa sumber utama dan fungsional dari terang dan kemuliaan adalah Allah sendiri:

  • Kemuliaan Allah adalah lingkungan bercahaya yang meliputi segalanya
  • Anak Domba (Kristus) adalah pelitanya—Dialah yang memediasi dan menyatakan kemuliaan itu

Dengan demikian, atmosfer bumi yang baru dipenuhi oleh cahaya ilahi, yang sempurna, jernih, dan tak terhalang. Penekanan berulang pada keterbukaan dan kejernihan (emas “bening laksana kaca”, permata yaspis “jernih seperti kristal”, Why 21:11,18,21) menegaskan bahwa seluruh lingkungan dirancang untuk meneruskan terang Allah tanpa hambatan.

3.3 Dunia Tanpa Kutuk

Lingkungan rohani dan fisik tak terpisahkan:

“Maka tidak akan ada lagi laknat.”
— Wahyu 22:3

Kutuk yang diucapkan dalam Kejadian 3 memengaruhi tanah, lingkungan, dan seluruh tatanan ciptaan. Di bumi yang baru:

  • Tidak ada kebusukan atau kerusakan
  • Tidak ada kesia‑siaan atau frustrasi dalam alam
  • Tidak ada ekosistem yang kacau atau ciptaan yang memusuhi

Penghapusan kutuk berarti sebuah lingkungan yang tertata secara sempurna, pendukung kehidupan, dan harmonis, sepenuhnya selaras dengan maksud Allah.


4. Yerusalem Baru: Kota Ibu Kota Bumi yang Baru

4.1 Turun dari Surga ke Bumi

Ciri utama dari lingkungan bumi yang baru adalah Yerusalem Baru:

“Lalu aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah
”
— Wahyu 21:2; bdk. 21:10

Ini bukan sekadar simbol orang‑orang yang ditebus; kota ini berulang kali digambarkan sebagai sebuah kota dengan ukuran yang dapat diukur, tembok, pintu gerbang, dasar‑dasar, jalan‑jalan, dan struktur internal (Why 21:10–21). Kota ini turun dari surga sekarang ini (tempat kediaman Allah) ke atas bumi yang baru, dan menjadi:

  • Kota ibu kota dari ciptaan yang baru
  • Pusat utama kehadiran Allah yang nyata dalam keadaan kekal

Dengan demikian, surga dan bumi menjadi bersatu: takhta dan tempat kediaman Allah bergerak turun ke bumi yang baru, bukan umat tebusan yang tinggal di suatu wilayah jauh yang terpisah.

4.2 Ukuran dan Bentuk

Ukuran kota ini luar biasa:

“Kota itu bentuknya empat persegi
 panjangnya sama dengan lebarnya
 dan tingginya sama dengan panjangnya
 dua belas ribu stadion.”
— Wahyu 21:16

Dua belas ribu stadion kira‑kira sama dengan 2.200–2.400 km ke setiap arah (sekitar 1.400–1.500 mil). Karena itu kota ini:

  • Sangat luas dalam tapak horizontal (lebih dari dua juta mil persegi)
  • Sangat besar dalam dimensi vertikal (seperti kubus sempurna atau mungkin berbentuk piramida)

Dimensi tiga arah ini menyiratkan:

  • Lingkungan tiga dimensi yang penuh dengan banyak tingkat, bukan kota satu lantai yang tipis
  • Kapasitas sangat besar bagi penduduk, bangunan, dan aktivitas

Bentuknya—dengan semua sisi sama—menggemakan Ruang Mahakudus yang berbentuk kubus dalam Bait Suci Perjanjian Lama (1 Raja‑raja 6:20), yang melambangkan bahwa seluruh kota adalah lingkungan tempat kudus di mana Allah berdiam secara terbuka bersama umat‑Nya.

4.3 Bahan dan Keterbukaan

Estetika lingkungan Yerusalem Baru ditandai oleh kemurnian, kemilau, dan keterbukaan (transparansi):

  • Tembok: “dibangun dari permata yaspis” (Why 21:18)
  • Kota: “emas murni, bagaikan kaca bening” (21:18)
  • Jalan: “emas murni, bagaikan kaca bening” (21:21)
  • Dasar‑dasar: dihiasi dua belas jenis batu permata beraneka warna (21:19–20)
  • Pintu gerbang: masing‑masing dari satu mutiara (21:21)

Gambaran ini menonjolkan:

  • Lingkungan yang sangat menakjubkan secara visual: struktur‑struktur kristalin beraneka warna yang memantulkan terang ilahi
  • Arsitektur yang semaksimal mungkin meneruskan terang: kejernihan memungkinkan kemuliaan Allah menembus kota dari segala arah
  • Konstruksi yang kekal, tak rusak, dan tak dapat lapuk: tanpa kerusakan, erosi, maupun kegagalan struktur

Yerusalem Baru membentuk lingkungan perkotaan bumi yang baru sebagai kota suci raksasa yang bercahaya, dirancang secara khusus untuk menyatakan dan memantulkan kemuliaan Allah.


5. Ekologi Bumi yang Baru: Sungai dan Pohon Kehidupan

5.1 Sungai Air Kehidupan

Di pusat lingkungan Yerusalem Baru mengalir sebuah sungai:

“Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, bening bagaikan kristal, yang mengalir keluar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu ke tengah‑tengah jalan raya kota itu.”
— Wahyu 22:1–2

Ciri‑ciri lingkungan penting:

  • Sumber: takhta Allah dan takhta Anak Domba—kehidupan mengalir dari hadirat Allah yang memerintah
  • Kejernihan: “bening bagaikan kristal”—kemurnian mutlak, tanpa polusi atau kekeruhan
  • Aliran: “ke tengah‑tengah jalan raya kota itu”—terpadu dengan rancangan kota itu sendiri

Sungai ini bersifat harfiah sekaligus simbolis: aliran air nyata yang sekaligus melambangkan aliran kehidupan, kesegaran, dan berkat yang tak pernah berhenti ke seluruh bumi yang baru. Inilah ciri hidrologis utama Yerusalem Baru, dan karena itu juga dari bumi yang baru.

5.2 Pohon Kehidupan dan Buah yang Tak Pernah Putus

Yohanes melanjutkan:

“Di tengah‑tengah jalan kota itu dan di seberang‑menyeberang sungai itu tumbuh pohon‑pohon kehidupan, yang berbuah dua belas kali, setiap bulan sekali.”
— Wahyu 22:2

Pohon Kehidupan, yang aksesnya ditutup bagi manusia setelah Kejatuhan (Kej 3:22–24), muncul kembali sebagai pusat ekologi yang dipulihkan:

  • Terletak “di seberang‑menyeberang sungai”—entah berupa satu pohon raksasa yang melintasi sungai atau suatu deretan pohon sejenis
  • Menghasilkan “dua belas macam buah”—keanekaragaman dan kekayaan yang luar biasa
  • Berbuah “setiap bulan”—produktif secara terus‑menerus dan teratur

Ini melukiskan lingkungan kekal yang berkelimpahan, di mana:

  • Makanan dan kenikmatan melimpah dan beraneka ragam
  • Waktu tetap ada dalam ritme yang sempurna (penyebutan “bulan” mengandaikan adanya penanda waktu yang berkelanjutan)

Daun pohon‑pohon itu dikatakan:

“dipakai untuk menyembuhkan bangsa‑bangsa.”
— Wahyu 22:2

Karena Wahyu 21:4 menegaskan tidak ada lagi sakit penyakit, maut, dan dukacita, maka “menyembuhkan” di sini (Yunani: therapeia) paling tepat dipahami sebagai memberi kesehatan, memelihara kehidupan, bukan menyembuhkan penyakit yang sudah ada. Gambaran ekologinya, dengan demikian, adalah:

  • Suatu biosfer yang menopang kehidupan tanpa kebusukan atau penyakit
  • Manusia dan bangsa‑bangsa terus‑menerus dipelihara oleh penyediaan Allah melalui lingkungan ciptaan

6. Struktur Sosial dan Spasial Bumi yang Baru

6.1 Bangsa‑bangsa dan Raja‑raja dalam Lingkungan yang Ditransformasi

Bumi yang baru bukanlah suatu alam yang abstrak dan tanpa perbedaan. Yohanes mencatat:

“Dan bangsa‑bangsa akan berjalan di dalam cahayanya, dan raja‑raja di bumi akan membawa kemuliaan mereka kepadanya.”
— Wahyu 21:24; bdk. 21:26

Secara lingkungan, hal ini mengisyaratkan:

  • Bangsa‑bangsa tetap ada sebagai entitas kolektif yang dapat dikenali
  • Ada keragaman geografis dan kultural di bumi yang baru
  • Bangsa‑bangsa ini keluar‑masuk Yerusalem Baru, membawa yang terbaik (“kemuliaan dan hormat”) ke dalam kota

Karena itu, di luar kota terdapat lingkungan planet yang lebih luas:

  • Dihuni, teratur, dan aktif
  • Terintegrasi secara sempurna dengan Yerusalem Baru sebagai pusat rohani dan pemerintahan

6.2 Pintu Gerbang Terbuka dan Keamanan Total

Kita diberitahu:

“Pintu‑pintu gerbangnya tidak akan ditutup pada siang hari, sebab malam tidak akan ada lagi di sana.”
— Wahyu 21:25

Dari sudut pandang keamanan lingkungan:

  • Tidak ada ancaman dari luar: tidak ada musuh, pemangsa, atau bahaya
  • Tidak perlu infrastruktur pertahanan: pintu gerbang tidak pernah ditutup, malaikat berdiri bukan sebagai penjaga dari bahaya, melainkan sebagai pelayan kemuliaan
  • Pergerakan tak terbatas: arus keluar‑masuk antara kota dan bumi yang lebih luas berlangsung terus‑menerus dan tanpa halangan

Dengan demikian, lingkungan sosial‑spasial bumi yang baru adalah lingkungan dengan keamanan mutlak, keterbukaan, dan akses bebas, sangat kontras dengan dunia sekarang yang dipenuhi kunci, tembok, dan batas‑batas.


7. Relasi antara Langit yang Baru dan Bumi yang Baru

7.1 Penyatuan Ruang Lingkup

Dalam keadaan kekal, pembedaan antara “surga” dan “bumi” mengalami transformasi. Yohanes mendengar:

“Lihatlah, kemah Allah ada di tengah‑tengah manusia dan Ia akan diam bersama‑sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat‑Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.”
— Wahyu 21:3

Yerusalem Baru turun “dari surga, dari Allah” (21:2,10) dan berada dalam relasi dengan bumi yang baru sebagai kota ibu kotanya. Ini berarti:

  • “Surga ketiga” sekarang ini, yaitu tempat kediaman Allah, berpadu secara tetap dengan bumi yang baru
  • Takhta Allah kini berlokasi di dalam kota di bumi yang baru (Why 22:1,3)
  • “Langit yang baru” (lingkungan kosmis di atas) dan “bumi yang baru” menjadi satu teater terpadu dari kehadiran Allah

7.2 Takhta Allah sebagai Pusat Lingkungan

Di pusat kosmos yang dipersatukan ini berdiri:

“takhta Allah dan takhta Anak Domba itu
 di dalamnya.”
— Wahyu 22:3

Dari takhta itu:

  • Sungai kehidupan mengalir (berkat lingkungan)
  • Terang memancar (penerangan lingkungan)
  • Pemerintahan dijalankan (“mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama‑lamanya,” 22:5)

Karena itu, lingkungan bumi yang baru bukan lingkungan yang otonom; lingkungan itu diatur, dipelihara, dan dipenuhi oleh hadirat dan pemerintahan Allah di dalam Kristus.


8. Kesimpulan

Lingkungan bumi yang baru, sebagaimana digambarkan dalam Wahyu 21–22, adalah ciptaan yang nyata, fisik, dan tertata, yang secara radikal berbeda dari dunia sekarang:

  • Tanpa laut yang mendominasi permukaan
  • Tanpa malam, tanpa kegelapan, dan tanpa kutuk
  • Sebuah kosmos yang diterangi oleh kemuliaan Allah dan Anak Domba
  • Sebuah kota ibu kota raksasa dan bercahaya—Yerusalem Baru—yang turun dari surga
  • Ekologi batiniah berupa sungai kristal dan Pohon Kehidupan, yang melambangkan kehidupan dan kelimpahan yang tak berkesudahan
  • Bangsa‑bangsa dan raja‑raja yang menghuni masyarakat planet yang aman, terbuka, dan harmonis
  • Takhta dan tempat kediaman Allah yang secara permanen berada bersama umat manusia

Dalam keadaan kekal, surga dan bumi dipersatukan: tempat kediaman Allah menjadi lingkungan manusia, dan lingkungan manusia sepenuhnya disesuaikan untuk memancarkan kemuliaan Allah. Bumi yang baru adalah, dalam segala hal, ciptaan yang mencapai puncak penggenapannya—dunia yang sepenuhnya dipenuhi terang, kehidupan, dan kebenaran.


FAQ

T: Apakah bumi yang baru akan menjadi tempat fisik atau murni rohani?

Bumi yang baru akan menjadi lingkungan yang nyata dan fisik. Wahyu menggambarkan jarak yang dapat diukur, tembok, dasar‑dasar, pintu gerbang, sungai, dan pohon‑pohon (Why 21–22). Orang percaya dibangkitkan dalam tubuh yang dipermuliakan, yang layak untuk menghuni ciptaan yang diperbarui ini. Lingkungannya diubah dan disempurnakan, tetapi tetap material dan bersifat ruang.

T: Apa maksud “lautpun tidak ada lagi” di bumi yang baru?

Wahyu 21:1 menyatakan “lautpun tidak ada lagi”, yang menunjukkan bahwa samudra‑samudra luas seperti yang kita kenal sekarang tidak akan ada. Ini kemungkinan menunjuk baik pada perubahan geofisik (tidak ada lagi samudra global yang mendominasi permukaan) maupun penghapusan apa yang sering dilambangkan laut dalam Alkitab—kekacauan, bahaya, dan pemisahan. Bumi yang baru digambarkan sebagai wilayah yang sepenuhnya menyatu dan layak huni, tanpa pembatas seperti itu.

T: Bagaimana hubungan Yerusalem Baru dengan bumi yang baru?

Yerusalem Baru adalah kota yang nyata yang “turun dari surga, dari Allah” ke atas bumi yang baru (Why 21:2,10). Kota ini berfungsi sebagai ibu kota ciptaan yang baru, menjadi tempat takhta Allah dan Anak Domba. Sementara bangsa‑bangsa tinggal di wilayah bumi yang baru yang lebih luas, mereka berjalan oleh terang kota itu dan membawa kemuliaan mereka kepadanya (Why 21:24–26), yang menunjukkan adanya hubungan yang terus‑menerus antara kota dan dunia di sekelilingnya.

T: Apakah akan ada waktu di bumi yang baru?

Ya. Pohon Kehidupan “menghasilkan buah dua belas kali, setiap bulan sekali” (Wahyu 22:2), yang mengisyaratkan adanya urutan waktu yang berkelanjutan. Yang lenyap bukanlah waktu itu sendiri, melainkan malam, kebusukan, dan maut. Waktu di bumi yang baru akan tak berkesudahan dan aman, menandai ritme kehidupan yang tak berakhir, bukan mendekatnya kematian.

T: Mengapa Alkitab mengatakan tidak ada lagi kebutuhan akan matahari atau bulan di Yerusalem Baru?

Wahyu 21:23 menjelaskan bahwa kota itu “tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.” Ini berarti bahwa sumber utama dan yang sepenuhnya memadai bagi penerangan di kota itu adalah kemuliaan Allah yang dinyatakan di dalam Kristus. Ini tidak harus dimengerti sebagai ketiadaan benda‑benda langit sama sekali, tetapi menegaskan bahwa di lingkungan pusat bumi yang baru, cahaya Allah sendiri sepenuhnya memenuhi fungsi terang.

Share Article

Pertanyaan yang Sering Diajukan

T: Apakah bumi yang baru akan menjadi tempat fisik atau murni rohani?
Bumi yang baru akan menjadi **lingkungan yang nyata dan fisik**. Wahyu menggambarkan jarak yang dapat diukur, tembok, dasar‑dasar, pintu gerbang, sungai, dan pohon‑pohon (*Why 21–22*). Orang percaya dibangkitkan dalam tubuh yang dipermuliakan, yang layak untuk menghuni ciptaan yang diperbarui ini. Lingkungannya diubah dan disempurnakan, tetapi tetap **material dan bersifat ruang**.
T: Apa maksud “lautpun tidak ada lagi” di bumi yang baru?
*Wahyu 21:1* menyatakan “lautpun tidak ada lagi”, yang menunjukkan bahwa **samudra‑samudra luas seperti yang kita kenal sekarang tidak akan ada**. Ini kemungkinan menunjuk baik pada **perubahan geofisik** (tidak ada lagi samudra global yang mendominasi permukaan) maupun penghapusan apa yang sering dilambangkan laut dalam Alkitab—kekacauan, bahaya, dan pemisahan. Bumi yang baru digambarkan sebagai **wilayah yang sepenuhnya menyatu dan layak huni**, tanpa pembatas seperti itu.
T: Bagaimana hubungan Yerusalem Baru dengan bumi yang baru?
Yerusalem Baru adalah **kota yang nyata** yang “turun dari surga, dari Allah” ke atas **bumi yang baru** (*Why 21:2,10*). Kota ini berfungsi sebagai **ibu kota ciptaan yang baru**, menjadi tempat takhta Allah dan Anak Domba. Sementara bangsa‑bangsa tinggal di wilayah bumi yang baru yang lebih luas, mereka berjalan oleh terang kota itu dan membawa kemuliaan mereka kepadanya (*Why 21:24–26*), yang menunjukkan adanya hubungan yang terus‑menerus antara kota dan dunia di sekelilingnya.
T: Apakah akan ada waktu di bumi yang baru?
Ya. Pohon Kehidupan “menghasilkan buah dua belas kali, setiap bulan sekali” (*Wahyu 22:2*), yang mengisyaratkan adanya **urutan waktu yang berkelanjutan**. Yang lenyap bukanlah waktu itu sendiri, melainkan **malam, kebusukan, dan maut**. Waktu di bumi yang baru akan **tak berkesudahan dan aman**, menandai ritme kehidupan yang tak berakhir, bukan mendekatnya kematian.
T: Mengapa Alkitab mengatakan tidak ada lagi kebutuhan akan matahari atau bulan di Yerusalem Baru?
*Wahyu 21:23* menjelaskan bahwa kota itu “tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.” Ini berarti bahwa **sumber utama dan yang sepenuhnya memadai bagi penerangan** di kota itu adalah kemuliaan Allah yang dinyatakan di dalam Kristus. Ini tidak harus dimengerti sebagai ketiadaan benda‑benda langit sama sekali, tetapi menegaskan bahwa di lingkungan pusat bumi yang baru, **cahaya Allah sendiri sepenuhnya memenuhi fungsi terang.**

L. A. C.

Teolog yang mengkhususkan diri dalam eskatologi, berkomitmen untuk membantu orang percaya memahami Firman nubuatan Allah.

Artikel Terkait