Literal vs Alegoris: Cara yang Tepat Menafsirkan Nubuatan Alkitab

hermeneutics13 menit baca

1. Pendahuluan

Cara kita menafsirkan nubuatan Alkitab—secara harfiah atau alegoris—membentuk seluruh pemahaman kita tentang akhir zaman. Apakah “seribu tahun” dalam Wahyu 20 adalah kerajaan masa depan yang nyata, atau hanya lambang untuk zaman sekarang? Apakah janji tanah bagi Israel dalam Kejadian 15 dan 17 adalah wilayah geografis masa depan, atau sekadar metafora rohani bagi gereja?

Isu pokoknya bukan rasa ingin tahu tentang masa depan, tetapi hermeneutika—metode yang kita gunakan untuk menafsirkan Kitab Suci. Artikel ini menjelaskan perbedaan antara penafsiran harfiah dan alegoris terhadap nubuatan Alkitab, membela pendekatan harfiah‑gramatikal‑historis, dan menjelaskan kapan teks-teks profetis memang harus dipahami secara kiasan tanpa meninggalkan kebenaran harfiah.


2. Apa Itu Penafsiran Harfiah terhadap Nubuatan Alkitab?

2.1 Definisi: Harfiah = Makna Biasa, Apa Adanya

Dalam studi hermeneutika, harfiah berasal dari gagasan sensus literalis—makna biasa dan wajar dari teks. Penafsiran harfiah terhadap nubuatan Alkitab berarti:

Menafsirkan kata-kata profetis dengan cara yang sama seperti kita menafsirkan komunikasi serius pada umumnya—menurut tata bahasa yang normal, kosa kata, dan konteks historisnya.

Jika seseorang berkata, “Saya melihat tiga anjing cokelat di gang,” kita tidak mencari kode tersembunyi; kita memahami tiga (bukan lima) anjing (bukan kucing) berwarna cokelat (bukan hitam) di gang (bukan di taman). Penafsiran harfiah mendekati nubuatan dengan asumsi dasar yang sama.

2.2 Metode Gramatikal–Historis–Kontekstual

Penafsiran harfiah terhadap nubuatan sering disebut metode gramatikal‑historis:

  • Gramatikal – Kata dan kalimat dipahami berdasarkan kaidah bahasa yang normal: sintaksis, bentuk kata kerja, kata benda, preposisi, dan sebagainya.
  • Historis – Teks dibaca dalam latar belakang sejarah dan budaya aslinya; kita menanyakan apa maknanya bagi penulis dan pembaca mula-mula.
  • Kontekstual – Ayat ditafsirkan dalam konteks langsungnya, dalam keseluruhan kitab, dan dalam keseluruhan Alkitab.

Tujuannya adalah menemukan makna yang dimaksudkan penulis, bukan memaksakan gagasan rohani atau simbolik kita sendiri ke atas teks.

2.3 Penafsiran Harfiah Mengakui Kiasan, Simbol, dan Tipe

Harfiah bukan berarti “kaku” atau “super‑harfiah.” Harfiah berarti bahwa:

  • Gaya bahasa kiasan dikenali sebagai kiasan.
  • Simbol diakui, tetapi selalu sebagai simbol dari sesuatu yang nyata dan harfiah.
  • Tipe-tipe (misalnya korban yang menunjuk kepada Kristus) dipahami sebagai pribadi, peristiwa, dan lembaga yang sungguh-sungguh ada yang menubuatkan penggenapan harfiah di masa depan.

Contoh:

  • “Akulah pintu” (Yohanes 10:9) jelas merupakan bahasa kiasan; Yesus bukan pintu dari kayu. Namun ada kebenaran harfiah: Dia satu‑satunya jalan masuk kepada keselamatan.
  • Allah bukan secara hurufiah “gunung batu” (Mazmur 18:2), tetapi Dia benar-benar sehandal dan sekuat gunung batu.
  • Dalam Kitab Wahyu, “tujuh kaki dian” bersifat simbolis, tetapi ditafsirkan secara harfiah oleh teks itu sendiri sebagai tujuh jemaat (Wahyu 1:20).

Metode harfiah menanyakan: Realitas harfiah apa yang ditunjuk oleh kiasan atau simbol ini? Metode ini tidak menolak simbol; justru menegaskan bahwa simbol menunjuk pada hal-hal yang nyata.

2.4 Satu Makna, Banyak Penerapan

Penafsiran harfiah juga menegaskan:

  • Satu makna dasar (sensus unum): Setiap teks profetis memiliki satu makna pokok—yang dimaksudkan Allah melalui penulis manusia.
  • Banyak implikasi dan penerapan: Satu nubuatan dapat memiliki banyak penerapan yang sah dan implikasi yang luas, tetapi semua ini mengalir dari satu makna asli tersebut.

Ini melindungi kita dari gagasan bahwa suatu bagian memiliki makna “lebih dalam” yang tak berujung atau saling bertentangan (sensus plenior yang disalahgunakan sebagai banyak makna yang bersaing).


3. Apa Itu Penafsiran Alegoris terhadap Nubuatan Alkitab?

3.1 Definisi: Penafsiran Alegoris / Rohani

Penafsiran alegoris (sering disebut “spiritualisasi”) memperlakukan makna harfiah nubuatan sebagai sesuatu yang sekunder atau bahkan dapat diabaikan, dan justru mencari makna rohani yang tersembunyi dan lebih dalam.

Dalam metode ini:

  • Israel dapat dijadikan simbol gereja.
  • Janji-janji tanah dapat ditafsir ulang sebagai surga atau “berkat-berkat rohani”.
  • Masa seribu tahun (Milenium) dapat direduksi menjadi lambang dari zaman gereja sekarang.
  • Rincian nubuatan yang konkret sering dilebur menjadi gagasan umum seperti “kemenangan kebaikan atas kejahatan.”

Teks menjadi seperti cangkang, dan “makna sesungguhnya” dikatakan berada di balik atau di bawah kata-kata itu.

3.2 Mengapa Penafsiran Alegoris Bermasalah

Dari sudut pandang biblika dan logika, metode ini sangat bermasalah:

  1. Tidak ada kontrol objektif
    Tidak ada kaidah yang jelas untuk menemukan makna “yang lebih dalam.” Satu bacaan alegoris sama sahnya dengan yang lain. Penafsiran berubah menjadi proyeksi imajinasi penafsir.

  2. Bersifat meruntuhkan diri sendiri
    Pernyataan, “Nubuatan tidak berarti seperti kelihatannya; ada makna rohani yang lebih dalam,” adalah klaim harfiah tentang bagaimana nubuatan harus dibaca. Para penganut alegori mengharapkan orang lain menerima teori mereka secara harfiah sambil menolak makna harfiah dari Kitab Suci.

  3. Bertentangan dengan pola Alkitab
    Narasi Perjanjian Lama—Adam, Nuh, Abraham, Yunus—dipahami secara harfiah oleh penulis-penulis Alkitab kemudian (misalnya Roma 5:12–14; Matius 12:39–41). Alkitab sendiri tidak mengalegorikan teks historis atau profetis, kecuali dalam kasus-kasus jarang yang secara eksplisit disebut alegori (misalnya Galatia 4:24).

  4. Pemakaian yang tidak konsisten
    Banyak yang mem‑spiritualisasi nubuatan namun menafsirkan doktrin lain (dosa, pembenaran, kebangkitan Kristus) secara harfiah. Beralih ke metode alegoris hanya untuk nubuatan menimbulkan ketidakkonsistenan internal dan memperlihatkan bias teologis, bukan penafsiran yang sehat.


4. Mengapa Penafsiran Harfiah Adalah Cara yang Benar untuk Menafsirkan Nubuatan Alkitab

4.1 Nubuatan tentang Kedatangan Kristus yang Pertama Digenapi Secara Harfiah

Argumen biblika terkuat bagi penafsiran harfiah terhadap nubuatan adalah cara Allah telah menggenapinya. Lebih dari 100 nubuatan mesianis digenapi secara harfiah dalam kedatangan Kristus yang pertama:

  • Keturunan perempuan – Kejadian 3:15
  • Keturunan Abraham – Kejadian 12:3
  • Dari suku Yehuda – Kejadian 49:10
  • Anak Daud – Yeremia 23:5–6
  • Lahir dari seorang perawan – Yesaya 7:14
  • Lahir di Betlehem – Mikha 5:2
  • Didahului oleh seorang pembuka jalan – Yesaya 40:3
  • Ditikam – Zakharia 12:10
  • “Dilenyapkan” (dibunuh) sekitar tahun 33 M – Daniel 9:24–26
  • Bangkit dari antara orang mati – Mazmur 16:10; Kisah Para Rasul 2:30–32

Jika Allah menggenapi nubuatan tentang kedatangan pertama secara langsung dan harfiah, maka konsistensi menuntut kita mengharapkan hal yang sama untuk nubuatan tentang Kedatangan Kedua—kecuali bila teks itu sendiri dengan jelas memberi tanda bahwa bahasanya simbolis.

Jika Anda ingin memahami bagaimana Allah akan menggenapi nubuatan di masa depan, perhatikan bagaimana Dia telah menggenapinya di masa lalu.

4.2 Cara Yesus Sendiri Menggunakan Nubuatan

Dalam Lukas 4:16–21, Yesus membaca Yesaya 61:1–2:

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin
. untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
— Lukas 4:18–19

Lalu Ia berkata:

“Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”
— Lukas 4:21

Ia menerapkan bagian pertama nubuatan Yesaya itu secara harfiah pada kedatangan-Nya yang pertama—tetapi Ia berhenti di tengah ayat, sebelum bagian “hari pembalasan dari Allah kita”. Frasa itu menanti penggenapan harfiah pada Kedatangan Kedua-Nya.

Hal ini menunjukkan bahwa:

  • Yesus menafsirkan nubuatan secara tepat dan harfiah.
  • Dalam satu ayat yang sama dapat terdapat dua penggenapan yang terpisah (kedatangan pertama dan kedua) tanpa mengubah maknanya.
  • “Pembalasan” itu tidak dipersempit menjadi sekadar makna rohani; hanya saja belum digenapi.

4.3 Simbol-Simbol dalam Wahyu Tetap Menunjuk pada Realitas Harfiah

Kitab Wahyu dipenuhi simbol, tetapi berulang kali menafsirkan sendiri simbol-simbolnya secara harfiah:

  • Tujuh bintang = tujuh malaikat – Wahyu 1:20
  • Tujuh kaki dian = tujuh jemaat – Wahyu 1:20
  • Cawan emas berisi ukupan = doa-doa orang kudus – Wahyu 5:8
  • Banyak air = “bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa” – Wahyu 17:15

Simbolisme berjalan berdampingan dengan penafsiran harfiah; bukan menggantikannya.

4.4 Alasan-Alasan Memilih Penafsiran Harfiah terhadap Nubuatan

Ringkasnya, beberapa alasan utama:

  1. Ini adalah cara yang normal untuk memahami setiap komunikasi yang serius.
  2. Sebagian besar isi Alkitab wajar dimengerti ketika dibaca secara harfiah.
  3. Semua pemakaian kiasan atau alegoris bergantung pada terlebih dahulu mengenali makna harfiahnya.
  4. Ini memberikan satu-satunya batas yang wajar dan aman bagi imajinasi manusia.
  5. Ini paling cocok dengan doktrin inspirasi verbal: Allah mengilhamkan kata-kata yang konkret, bukan ide yang kabur.
  6. Ini sejalan dengan cara Kitab Suci yang kemudian menafsirkan Kitab Suci yang lebih awal.

5. Kapan Nubuatan Menggunakan Bahasa Kiasan atau Alegoris

Metode harfiah‑gramatikal‑historis sepenuhnya mengakui bahwa nubuatan sering memakai gaya bahasa yang kuat, puisi, dan simbol. Pertanyaan kuncinya bukan “harfiah atau kiasan?” tetapi:

Apakah kiasan ini dimaksudkan untuk mengganti realitas harfiah atau untuk mengkomunikasikannya secara lebih kuat?

5.1 Pedoman Mengenali Bahasa Kiasan

Penafsiran harfiah menganggap sebuah teks bersifat kiasan apabila:

  1. Jelas-jelas bersifat kiasan

    • Yesus: “Akulah pintu” (Yohanes 10:9) atau “Akulah pokok anggur yang benar” (Yohanes 15:1).
      Tidak ada pembaca yang berpikir bahwa Ia kayu atau tanaman; kiasan itu menyampaikan ketergantungan rohani yang nyata.
  2. Teks itu sendiri memberi label bahwa itu kiasan

    • Paulus secara tegas mengatakan bahwa ia memakai kiasan/alegori dalam Galatia 4:24.
    • Yesus berkata, “Inilah arti perumpamaan itu” dan menjelaskan simbol-simbolnya (Lukas 8:11–15).
  3. Pembacaan yang sangat harfiah akan bertentangan dengan teks yang jelas tidak kiasan

    • “Empat penjuru bumi” (Wahyu 7:1) tidak membatalkan fakta bahwa bumi bulat; itu adalah idiom untuk seluruh dunia.

Kaida klasik sering dirumuskan demikian:

Bila makna harfiah masuk akal dengan baik, jangan mencari makna lain, supaya tidak berakhir dalam ketidakmasukakalan.

5.2 Perumpamaan dan Alegori Tetap Menyampaikan Kebenaran Harfiah

  • Perumpamaan (misalnya perumpamaan penggarap kebun anggur – Lukas 20:9–18) memakai cerita fiktif untuk menyampaikan kebenaran harfiah tentang penolakan Israel terhadap Kristus dan penghakiman-Nya di masa depan.
  • Sedikit alegori dalam Alkitab (Galatia 4:21–31) secara jelas diberi label, dan tetap berakar pada tokoh-tokoh historis yang nyata (Sara dan Hagar).

Kita tidak boleh berasumsi bahwa karena suatu bagian memakai citra atau bentuk naratif, maka nubuat-nubuat di dalamnya “sekadar rohani.” Tanpa mengetahui apa yang secara harfiah benar, kita tidak akan bisa mengetahui apa yang secara kiasan dinyatakan.

5.3 Perbandingan: Pendekatan Harfiah vs Alegoris

CiriMetode Harfiah‑Gramatikal‑HistorisMetode Alegoris / Spiritualisasi
Pertanyaan dasarApa yang dimaksud penulis dalam konteksnya?Gagasan rohani lebih dalam apa yang bisa saya temukan di sini?
Perlakuan terhadap bahasaKaidah bahasa dan sejarah yang normalKata-kata sering dijadikan simbol di luar kaidah bahasa
Penggunaan simbolSimbol menunjuk pada realitas konkretSimbol bisa melarutkan referensi yang konkret
Jumlah maknaSatu makna dasar, banyak penerapanSering banyak makna “lebih penuh” yang bertingkat
Kontrol / objektivitasTinggi – berdasarkan teks, konteks, dan bahasaRendah – sangat bergantung pada gagasan penafsir
Penggenapan nubuatanMengharapkan penggenapan harfiah kecuali jelas kiasanMengharapkan penggenapan rohani / “lebih dalam”

6. Prinsip-Prinsip Praktis untuk Menafsirkan Nubuatan Alkitab Masa Kini

Untuk menafsirkan nubuatan Alkitab dengan setia dan menghindari baik literalisme naif maupun alegorisasi subjektif, beberapa prinsip praktis perlu menuntun kita.

6.1 Mulai dengan Makna Biasa

Bacalah bagian-bagian profetis sebagaimana Anda membaca prosa serius lainnya. Ketika Wahyu 20:2–6 berulang kali menyebut “seribu tahun”, makna yang wajar adalah suatu kurun waktu tertentu. Tidak ada unsur dalam tata bahasanya yang memaksa kita mem‑spiritualisasi istilah itu menjadi lambang samar dari “waktu yang lama sekali.”

Jika makna biasa sesuai dengan konteks dan tidak bertentangan dengan bagian lain Kitab Suci, kita seharusnya menerimanya.

6.2 Bandingkan Nubuatan dengan Nubuatan

“Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia sendiri.”
— 2 Petrus 1:20

Tidak ada satu pun nubuatan yang mengatakan segala sesuatu tentang satu topik. Untuk menafsirkan sebuah bagian dengan benar:

  • Bandingkan nubuatan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang berbicara tentang peristiwa atau pribadi yang sama (misalnya Antikristus, Hari TUHAN, Milenium).
  • Biarkan nubuatan yang lebih jelas menerangi nubuatan yang lebih sulit.
  • Jangan pernah memakai satu bagian untuk membatalkan makna harfiah bagian lain (misalnya, jangan biarkan penerapan Perjanjian Baru kepada gereja menghapus janji asli kepada Israel).

6.3 Mengenali Jeda Waktu dalam Nubuatan

Para nabi Perjanjian Lama sering melihat masa depan seperti deretan puncak gunung—peristiwa yang jauh terpisah dalam sejarah tampak bersebelahan dalam satu ayat:

  • Zakharia 9:9–10 menggabungkan kedatangan pertama Mesias (mengendarai keledai) dan pemerintahan-Nya secara global pada Kedatangan Kedua.
  • Yesaya 61:1–2 menyatukan “tahun rahmat Tuhan” (kedatangan pertama) dengan “hari pembalasan dari Allah kita” (Kedatangan Kedua), suatu jeda waktu yang ditunjukkan Yesus sendiri dalam Lukas 4:16–21 dengan berhenti di tengah ayat.

Mengenali interval waktu seperti ini melindungi kita dari pemaksaan semua penggenapan nubuatan ke dalam satu zaman, dan dari kecenderungan mengalegorikan rincian yang belum digenapi.

6.4 Membedakan antara Tafsir dan Penerapan

  • Tafsir (interpretasi) bertanya: Apa yang dimaksud teks itu bagi audiens aslinya?
  • Penerapan (aplikasi) bertanya: Bagaimana kebenaran yang sama itu diterapkan bagi kita sekarang?

Sebagai contoh, Yeremia 31:31–34 menjanjikan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda. Gereja masa kini ikut menikmati berkat rohani dari perjanjian itu melalui Kristus, tetapi penerapan ini tidak menghapus janji asli kepada Israel sebagai bangsa atau mengubahnya menjadi sekadar simbol.


7. Kesimpulan

Perdebatan antara penafsiran harfiah dan alegoris terhadap nubuatan Alkitab bukan soal teknis kecil. Ini adalah persoalan fondasional. Pendekatan harfiah‑gramatikal‑historis:

  • Mengakui bahwa Allah adalah Komunikator yang mahakuasa yang bermaksud dimengerti.
  • Menghormati kata-kata yang diilhamkan Allah, bukan hanya konsep yang kabur.
  • Mengikuti pola biblika tentang bagaimana nubuatan yang lebih awal telah digenapi.
  • Menyediakan kerangka kerja objektif dan berbasis teks yang mengekang imajinasi manusia.

Sebaliknya, metode alegoris atau spiritualisasi melepaskan nubuatan dari jangkar tekstualnya dan menempatkan makna di tangan penafsir. Ketika Israel, Kerajaan, Milenium, atau penghakiman telah dijadikan terutama “simbol”, sistem teologi apa pun bisa dibaca masuk ke dalamnya.

Menafsirkan nubuatan Alkitab secara harfiah tidak berarti menolak gaya bahasa kiasan, simbol, atau kebenaran rohani yang mendalam. Sebaliknya, pendekatan ini menegaskan bahwa setiap simbol menunjuk pada referensi yang nyata, setiap gambar menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya, dan setiap nubuatan akan digenapi sejelas dan setepat nubuatan tentang kedatangan Kristus yang pertama.

Bagi mereka yang ingin memahami “firman nubuat yang lebih terjamin kebenarannya” (2 Petrus 1:19), metode harfiah‑gramatikal‑historis bukan sekadar satu pilihan di antara banyak opsi—melainkan cara yang benar untuk menafsirkan nubuatan Alkitab.


FAQ

T: Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “penafsiran harfiah terhadap nubuatan Alkitab”?

Penafsiran harfiah berarti membaca teks-teks profetis dalam makna yang normal, gramatikal, dan historis, sama seperti kita membaca tulisan serius lainnya. Pendekatan ini mengakui adanya gaya bahasa kiasan dan simbol, tetapi menegaskan bahwa semuanya selalu menunjuk pada kebenaran yang nyata dan konkret, bukan gagasan rohani yang melayang tanpa batas.

T: Apakah pendekatan harfiah mengabaikan simbol dan gambaran puitis?

Tidak. Pendekatan harfiah sepenuhnya mengakui simbolisme, bahasa puitis, dan gambaran kuat dalam nubuatan, khususnya dalam kitab-kitab seperti Daniel dan Wahyu. Kuncinya adalah setiap simbol dipahami sebagai mewakili sesuatu yang betul-betul nyata, dan maknanya digali dari teks dan konteks biblika, bukan dari imajinasi penafsir.

T: Mengapa penafsiran alegoris terhadap nubuatan dianggap berbahaya?

Penafsiran alegoris bermasalah karena sering kali tidak memiliki kontrol objektif dan dapat menjadikan teks berarti apa pun yang diinginkan penafsir. Ini merongrong otoritas Kitab Suci, melemahkan keyakinan terhadap janji-janji khusus Allah (terutama kepada Israel), dan menyimpang dari cara Alkitab sendiri menafsirkan nubuatan yang lebih awal.

T: Bagaimana saya dapat mengetahui kapan sebuah nubuatan harus dipahami secara kiasan?

Ajukan tiga pertanyaan: (1) Apakah bahasanya jelas-jelas kiasan (misalnya, “Akulah pintu”)? (2) Apakah teks atau bagian sejajar secara eksplisit memberi label bahwa itu perumpamaan, alegori, atau simbol? (3) Apakah pembacaan harfiah yang ketat akan bertentangan dengan ajaran lain yang jelas dan tidak kiasan dalam Kitab Suci? Jika tidak, nubuatan itu seharusnya dipahami dalam makna biasa.

T: Mengapa penting apakah kita menafsirkan nubuatan secara harfiah atau alegoris?

Karena hermeneutika kita menentukan kesimpulan kita. Metode harfiah membuat kita mengharapkan penggenapan masa depan yang konkret dari janji-janji Allah, termasuk Kedatangan Kedua Kristus dan pemerintahan kerajaan-Nya dalam Milenium. Metode alegoris sering melarutkan pengharapan ini menjadi kebenaran rohani yang umum, sehingga membentuk ulang doktrin tentang Israel, gereja, penghakiman, dan kerajaan—dan pada akhirnya, pengharapan kita.

Share Article

Pertanyaan yang Sering Diajukan

T: Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “penafsiran harfiah terhadap nubuatan Alkitab”?
Penafsiran harfiah berarti membaca teks-teks profetis dalam **makna yang normal, gramatikal, dan historis**, sama seperti kita membaca tulisan serius lainnya. Pendekatan ini mengakui adanya gaya bahasa kiasan dan simbol, tetapi menegaskan bahwa semuanya selalu menunjuk pada **kebenaran yang nyata dan konkret**, bukan gagasan rohani yang melayang tanpa batas.
T: Apakah pendekatan harfiah mengabaikan simbol dan gambaran puitis?
Tidak. Pendekatan harfiah sepenuhnya mengakui simbolisme, bahasa puitis, dan gambaran kuat dalam nubuatan, khususnya dalam kitab-kitab seperti Daniel dan Wahyu. Kuncinya adalah setiap simbol dipahami sebagai mewakili sesuatu yang **betul-betul nyata**, dan maknanya digali dari teks dan konteks biblika, bukan dari imajinasi penafsir.
T: Mengapa penafsiran alegoris terhadap nubuatan dianggap berbahaya?
Penafsiran alegoris bermasalah karena sering kali tidak memiliki kontrol objektif dan dapat menjadikan teks berarti apa pun yang diinginkan penafsir. Ini merongrong otoritas Kitab Suci, melemahkan keyakinan terhadap janji-janji khusus Allah (terutama kepada Israel), dan menyimpang dari cara Alkitab sendiri menafsirkan nubuatan yang lebih awal.
T: Bagaimana saya dapat mengetahui kapan sebuah nubuatan harus dipahami secara kiasan?
Ajukan tiga pertanyaan: (1) Apakah bahasanya **jelas-jelas kiasan** (misalnya, “Akulah pintu”)? (2) Apakah teks atau bagian sejajar **secara eksplisit memberi label** bahwa itu perumpamaan, alegori, atau simbol? (3) Apakah pembacaan harfiah yang ketat akan bertentangan dengan ajaran lain yang jelas dan tidak kiasan dalam Kitab Suci? Jika tidak, nubuatan itu seharusnya dipahami dalam **makna biasa**.
T: Mengapa penting apakah kita menafsirkan nubuatan secara harfiah atau alegoris?
Karena hermeneutika kita menentukan kesimpulan kita. Metode harfiah membuat kita mengharapkan penggenapan masa depan yang konkret dari janji-janji Allah, termasuk Kedatangan Kedua Kristus dan pemerintahan kerajaan-Nya dalam Milenium. Metode alegoris sering melarutkan pengharapan ini menjadi kebenaran rohani yang umum, sehingga membentuk ulang doktrin tentang Israel, gereja, penghakiman, dan kerajaan—dan pada akhirnya, pengharapan kita.

L. A. C.

Teolog yang mengkhususkan diri dalam eskatologi, berkomitmen untuk membantu orang percaya memahami Firman nubuatan Allah.

Artikel Terkait