Perjanjian Daud dan Kerajaan Mesianik yang Akan Datang

covenants12 menit baca

1. Pendahuluan

Perjanjian Daud adalah salah satu pilar utama dalam eskatologi Alkitab. Ini adalah janji bersumpah Allah kepada Daud bahwa dinasti, takhta, dan kerajaannya akan ditegakkan untuk selama‑lamanya, dan bahwa seorang Anak Raja dari keturunannya akan memerintah dalam kebenaran. Kerajaan Mesianik (Milenial) yang akan datang—pemerintahan Kristus selama seribu tahun di bumi—adalah panggung di mana perjanjian ini digenapi secara kelihatan.

Memahami Perjanjian Daud menjelaskan:

  • Mengapa Mesias harus menjadi Anak Daud.
  • Mengapa harus ada kerajaan duniawi yang akan datang yang berpusat di Yerusalem.
  • Bagaimana janji Allah kepada Israel terkait dengan rencana-Nya bagi segala bangsa.

Artikel ini menelusuri dasar-dasar biblika, sifat, dan penggenapan eskatologis Perjanjian Daud dalam Kerajaan Mesianik yang akan datang.


2. Teks Alkitab tentang Perjanjian Daud

Teks dasar tentang Perjanjian Daud terdapat dalam 2 Samuel 7:11–16 (bdk. 1 Tawarikh 17:10–14). Daud ingin membangun rumah (Bait Suci) bagi Tuhan, tetapi Allah membalik inisiatif itu:

“Tuhan memberitahukan kepadamu bahwa Dia akan mendirikan suatu keturunan bagimu. Apabila umurmu sudah genap dan engkau mendapat perhentian bersama dengan nenek moyangmu, **maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, yang akan keluar dari tubuhmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama‑lamanya
Keluargamu dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama‑lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan tetap untuk selama‑lamanya.
2 Samuel 7:11–13, 16 (disesuaikan gaya TB)

Unsur-unsur kunci:

  • “Rumah”dinasti Daud, garis kerajaannya.
  • “Takhta”hak untuk memerintah, otoritas kerajaan.
  • “Kerajaan”wilayah pemerintahan, berpusat di Israel, namun pada akhirnya menjangkau bangsa-bangsa.

Segi-segi langsungnya berlaku pada Salomo (dialah yang akan membangun Bait Suci dan akan didisiplin jika berdosa, ay. 14), tetapi pengulangan istilah “untuk selama‑lamanya” mendorong kita melampaui Salomo kepada Seorang Anak yang lebih besar dan kekal.


3. Sifat Perjanjian Daud: Rumah, Takhta, Kerajaan, Selama‑lamanya

3.1 Tanpa Syarat dan Kekal

Seperti perjanjian dengan Abraham, Perjanjian Daud digambarkan sebagai tanpa syarat dan tidak dapat dibatalkan. Allah mengikat diri-Nya dengan sumpah-Nya sendiri.

Mazmur 89 menafsirkan dan menerapkan perjanjian ini:

“Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah.
Sekali untuk selama‑lamanya Aku bersumpah demi kekudusan-Ku, Aku tidak akan membohongi Daud.
Keturunannya akan ada untuk selama‑lamanya dan takhtanya seperti matahari di hadapan-Ku.”
Mazmur 89:35–37 (TB)

Sekalipun keturunan Daud berdosa, Allah berkata:

“Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat-Ku… maka Aku akan menghukum pelanggaran mereka dengan tongkat…
Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya, dan Aku tidak akan berlaku curang terhadap kesetiaan-Ku.
Mazmur 89:31–34 (TB, disesuaikan)

Perjanjian ini menjamin:

  • Garis kerajaan yang terus-menerus (“rumah”).
  • Hak memerintah yang kekal (“takhta”).
  • Kerajaan yang kekal yang terikat pada Daud.

Walaupun praktik pemerintahan itu dapat terhenti sementara (misalnya pembuangan ke Babel, dan masa panjang tanpa raja Daud yang duduk di takhta), hak untuk memerintah tidak pernah dipindahkan kepada keluarga lain.

3.2 Terikat pada Israel dan Kerajaan di Bumi

Perjanjian ini menyangkut kerajaan nasional dan politis yang berakar di Israel. Daud memahaminya demikian:

“Dan sekarang, ya Tuhan ALLAH… Engkau telah berfirman tentang keluarga hamba-Mu ini untuk waktu yang panjang ke depan… maka dengan berkat-Mu kiranya keluarga hamba-Mu diberkati untuk selama‑lamanya.”
2 Samuel 7:25–29, bdk. 23:5 (disesuaikan gaya TB)

Para nabi kemudian secara konsisten menafsirkannya dalam arti harfiah dan nasional, bukan sekadar metafora rohani.


4. Perkembangan Profetis Perjanjian Daud

Sesudah 2 Samuel 7, seluruh Perjanjian Lama mengembangkan dan memperluas perjanjian ini.

4.1 Kitab Mazmur

Mazmur 2 melukiskan Raja yang diurapi TUHAN memerintah bangsa-bangsa dari Sion:

“Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus…
Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung-ujung bumi menjadi kepunyaanmu.”
Mazmur 2:6, 8 (TB, disesuaikan)

Mazmur 72 menggambarkan seorang Anak Raja yang memerintah dengan kebenaran, membawa damai sejahtera dan kemakmuran global.

Mazmur 132 mengaitkan Sion, takhta Daud, dan pilihan Allah:

“TUHAN telah bersumpah kepada Daud, sumpah yang tak akan Ia ingkari: ‘Seorang dari keturunanmu sendiri akan Kududukkan di atas takhtamu.’”
Mazmur 132:11 (TB, disesuaikan)

4.2 Para Nabi

Nabi-nabi besar menempatkan janji Daud di pusat pemulihan masa depan:

  • Yesaya:

    • Seorang Anak Daud akan memerintah dengan gelar-gelar ilahi:

      “Sebab seorang anak telah lahir bagi kita, seorang putera telah diberikan bagi kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya…
      Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan,
      di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya,
      untuk menegakkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran
      dari sekarang sampai selama‑lamanya.
      Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.”
      Yesaya 9:5–6 [9:6–7] (TB, disesuaikan)

    • Suatu tunas dari pangkal Isai (ayah Daud) akan menghakimi dengan kebenaran dan memenuhi bumi dengan pengenalan akan TUHAN (Yesaya 11:1–10).

  • Yeremia:

    “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan bagi Daud suatu Tunas yang adil; ia akan memerintah sebagai raja dan akan bertindak dengan bijaksana, dan akan melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri. Pada zamannya Yehuda akan diselamatkan dan Israel akan hidup dengan tenteram.”
    Yeremia 23:5–6 (TB, disesuaikan)

    Allah mengikat ketidakberubahan perjanjian ini pada ketetapan alam ciptaan (Yeremia 33:19–26).

  • Yehezkiel:

    Dalam konteks pemulihan masa depan bagi Israel, Allah berfirman:

    “Hamba-Ku Daud akan menjadi raja atas mereka, dan mereka semuanya akan mempunyai satu gembala…
    Mereka akan tinggal di tanah yang Kuberikan kepada Yakub, hamba-Ku… untuk selama‑lamanya,
    dan Daud, hamba-Ku, akan menjadi raja mereka untuk selama‑lamanya.”
    Yehezkiel 37:24–25 (TB, disesuaikan)

Bagian ini muncul dalam konteks Israel yang dikumpulkan kembali dan dipersatukan, diperbarui oleh Roh dan tinggal dengan aman di tanah mereka (Yehezkiel 36–37). “Daud” di sini paling baik dipahami sebagai Daud yang telah dibangkitkan yang melayani di bawah Mesias, atau sebagai gelar kerajaan bagi Sang Mesias Anak Daud. Dalam kedua kemungkinan, yang digambarkan adalah pemerintahan literal atas bangsa yang dipulihkan.


5. Penggenapan dalam Kristus, Sang Anak Daud

5.1 Garis Keturunan Daud Mengarah kepada Yesus

Perjanjian Baru dibuka dengan menegaskan akar keturunan Yesus dalam garis Daud:

“Inilah silsilah Yesus Kristus, Anak Daud, Anak Abraham.”
Matius 1:1 (TB)

Malaikat Gabriel berkata kepada Maria:

“Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama‑lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”
Lukas 1:32–33 (TB, disesuaikan)

Jadi Yesus adalah ahli waris Daud yang dijanjikan yang akan menerima takhta Daud dan memerintah atas “kaum keturunan Yakub” (Israel secara nasional) sampai selama‑lamanya.

5.2 Kedatangan Pertama: Inaugurasi, tetapi Belum Duduk di Takhta Daud

Pada kedatangan-Nya yang pertama, Yesus meneguhkan identitas Mesianik-Nya dan menawarkan kerajaan kepada Israel (Matius 3:2; 4:17; 10:5–7). Banyak orang mengenali-Nya sebagai “Anak Daud” (Mat 9:27; 21:9, 15).

Namun para pemimpin bangsa menolak Dia, bahkan menuduh pekerjaan-Nya berasal dari Iblis (Mat 12:24), dan akhirnya menyalibkan Dia sebagai “Raja orang Yahudi” (Mat 27:37). Akibatnya, manifestasi kelihatan Kerajaan Daud ditangguhkan, dan Yesus berbicara tentang bentuk rahasia dari kerajaan yang beroperasi selama zaman sekarang (perumpamaan-perumpamaan dalam Matius 13).

Sesudah kebangkitan dan kenaikan-Nya, Yesus duduk di sebelah kanan Bapa:

“Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.”
Mazmur 110:1; diterapkan dalam Kisah Para Rasul 2:34–35; Ibrani 10:12–13

Kedudukan ini adalah di takhta Bapa, bukan secara eksplisit disebut sebagai “takhta Daud.” Saat ini Kristus menjalankan otoritas rohani yang universal sebagai Tuhan atas gereja dan atas segala sesuatu (Efesus 1:20–22), tetapi hal ini tidak menghabiskan ataupun membatalkan janji khusus bahwa Ia akan memerintah di takhta Daud di Yerusalem atas Israel dan bangsa-bangsa.

Ketika para murid bertanya setelah kebangkitan-Nya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kisah Para Rasul 1:6, disesuaikan), Yesus tidak mengatakan bahwa harapan itu salah atau sudah digenapi. Ia menjawab:

“Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.”
Kisah Para Rasul 1:7 (TB)

Pemulihan Kerajaan Daud bagi Israel tetap bersifat futuristis; waktunya yang dirahasiakan, bukan realitasnya yang dibatalkan.

5.3 Kedatangan Kedua: Pengambilalihan Publik Takhta Daud dalam Kerajaan Milenium

Penggenapan publik Perjanjian Daud menunggu Kedatangan Kedua Kristus. Pada saat Ia kembali:

  • Ia akan turun secara jasmani di Bukit Zaitun (Zakharia 14:4; Kisah Para Rasul 1:11–12).

  • Ia akan mengalahkan bangsa-bangsa yang memusuhi-Nya dan menghakimi orang-orang yang masih hidup (Matius 25:31–46; Wahyu 19:11–21).

  • Ia akan duduk di takhta kemuliaan-Nya, dan para rasul akan menghakimi kedua belas suku Israel:

    “Pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu yang telah mengikuti Aku akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.”
    Matius 19:28 (TB, disesuaikan)

“Takhta kemuliaan” ini adalah manifestasi di bumi dari takhta Daud, sejalan dengan Lukas 1:32–33.

Wahyu 20:1–6 menggambarkan pemerintahan seribu tahun Kristus bersama orang-orang kudus:

“Mereka hidup kembali dan berkuasa bersama-sama dengan Kristus selama seribu tahun itu.”
Wahyu 20:4 (TB, disesuaikan)

Selama Kerajaan Milenium ini:

  • Iblis diikat (Wahyu 20:1–3).
  • Kutuk atas ciptaan secara signifikan dipulihkan (diringankan) (Yesaya 11:6–9; 65:20–25).
  • Israel dipulihkan dan ditinggikan di antara bangsa-bangsa (Yesaya 2:1–4; Mikha 4:1–8; Zakh 8:20–23).
  • Janji-janji Daud digenapi secara kelihatan: seorang Raja dari garis Daud memerintah dari Sion, atas Israel dan segala bangsa, dalam kebenaran dan damai.

Hanya suatu pemerintahan duniawi, politis, dan futuristis semacam inilah yang secara memadai menggenapi struktur Perjanjian Daud: rumah–takhta–kerajaan–selama‑lamanya.


6. Perjanjian Daud dalam Keseluruhan Program Kerajaan Mesianik

6.1 Hubungan dengan Perjanjian Abraham dan Perjanjian Baru

Perjanjian Daud adalah perwujudan kerajaan dari Perjanjian Abraham:

  • Kepada Abraham dijanjikan keturunan, tanah, dan berkat bagi segala bangsa (Kejadian 12:1–3; 17:6–8).
  • Perjanjian Daud memfokuskan janji keturunan itu kepada garis kerajaan dan menjamin takhta dan kerajaan yang kekal (2 Sam 7; Mzm 89).
  • Perjanjian Baru (New Covenant) menjamin bahwa Israel akan dilahirkan kembali, diampuni, dan dipenuhi Roh Kudus sehingga mereka dapat hidup di bawah Raja dari garis Daud (Yer 31:31–34; Yeh 36:25–27; 37:24–28).

Yehezkiel 37 menyatukan ketiganya:

  • Pengumpulan kembali dan pemulihan ke tanah – janji Abraham dan janji tentang Tanah (Yeh 37:21–22).
  • “Satu raja atas mereka… dan Daud, hamba-Ku, akan menjadi raja atas mereka” – Perjanjian Daud (Yeh 37:24–25).
  • “Aku akan menaruh Roh-Ku di dalam kamu… Aku akan mengikat perjanjian damai dengan mereka; itu akan menjadi perjanjian kekal” – Perjanjian Baru (Yeh 37:26–27).

Semua ini bertemu dalam Kerajaan Milenium, ketika Raja dari garis Daud memerintah atas Israel yang telah diperbarui secara rohani di tanah mereka, dan berkat mengalir kepada bangsa-bangsa.

6.2 Israel, Bangsa-Bangsa, dan Masa Milenium

Perjanjian Daud menuntut:

  • Keberadaan Israel yang berkelanjutan sebagai bangsa (bdk. Yer 31:35–37).
  • Pemulihan masa depan Israel dalam kasih karunia dan ke tanah mereka (Roma 11:25–27).
  • Pembedaan antara Israel etnis dan gereja, meskipun semua orang yang ditebus berbagi dalam berkat keselamatan.

Dalam masa Milenium:

  • Israel menjadi kepala dan bukan ekor di antara bangsa-bangsa, di bawah Raja dari garis Daud (Ulangan 28:13; Yesaya 60).
  • Bangsa-bangsa berduyun-duyun ke Yerusalem untuk menerima pengajaran dan menyembah TUHAN (Yesaya 2:2–4; Zakharia 14:16–19).
  • Pemerintahan Kristus sekaligus universal dan berpusat pada Israel, menggenapi janji-janji Abraham dan Daud.

Dengan demikian, Perjanjian Daud menjadi jangkar bagi Kerajaan Mesianik yang bersifat premilenial dan duniawi sebagai tahap yang niscaya dalam rencana penebusan Allah.


7. Penutup

Perjanjian Daud bukanlah janji sampingan dalam Perjanjian Lama; tetapi merupakan tulang punggung struktural eskatologi Alkitab. Allah bersumpah kepada Daud tentang rumah, takhta, dan kerajaan yang kekal. Para nabi melihat ke depan kepada seorang Raja dari garis Daud yang memerintah di Sion, memerintah Israel dan bangsa-bangsa dengan keadilan dan damai.

Yesus, Anak Daud, telah datang, mati, bangkit, dan naik ke surga. Sekarang Ia duduk di sebelah kanan Bapa, menantikan saat ketika musuh-musuh-Nya dijadikan tumpuan kaki-Nya. Pada Kedatangan Kedua-Nya, Ia akan duduk di takhta Daud yang sah menjadi hak-Nya, mendirikan Kerajaan Milenium-Nya, dan membawa Perjanjian Daud pada penggenapan penuh yang kelihatan.

Alih-alih “dirohanikan” atau dianggap sudah selesai dalam zaman sekarang, Perjanjian Daud justru menjamin adanya Kerajaan Mesianik masa depan di bumi—suatu kerajaan di mana kesetiaan Allah kepada Daud, kepada Israel, dan kepada segala bangsa akan dinyatakan dalam kemuliaan.


FAQ

T: Apa itu Perjanjian Daud dalam istilah yang sederhana?

Perjanjian Daud adalah janji bersumpah Allah kepada Raja Daud bahwa garis keluarganya akan tetap ada, bahwa takhtanya (hak untuk memerintah) akan ditegakkan untuk selama‑lamanya, dan bahwa seorang Anak Raja dari keturunannya akan memerintah dalam kebenaran. Penggenapan tertingginya terdapat dalam Yesus Kristus, Anak Daud, yang akan memerintah dari Yerusalem dalam Kerajaan Mesianik yang akan datang.

T: Apakah Perjanjian Daud sudah digenapi di dalam gereja?

Belum. Walaupun Kristus sekarang memerintah di sebelah kanan Bapa dan gereja mengambil bagian dalam berkat rohani-Nya, janji-janji spesifik Perjanjian Daud—takhta dan kerajaan kekal yang berpusat pada Israel dan dipimpin dari takhta Daud—menuntut penggenapan duniawi di masa depan dalam Kerajaan Milenium. Perjanjian Baru tidak pernah menyebut kedudukan Kristus sekarang sebagai “takhta Daud.”

T: Bagaimana hubungan Perjanjian Daud dengan Kerajaan Milenium?

Kerajaan Milenium adalah panggung di mana Perjanjian Daud digenapi secara publik. Selama seribu tahun yang digambarkan dalam Wahyu 20, Kristus sebagai Anak Daud memerintah dari Yerusalem atas Israel dan bangsa-bangsa, menggenapi nubuat-nubuat Perjanjian Lama tentang Raja dari garis Daud, pemulihan Israel, serta damai dan keadilan yang mendunia.

T: Mengapa Mesias harus memerintah dari Yerusalem dan bukan hanya dari surga?

Perjanjian Daud dan para nabi berulang kali menempatkan pemerintahan Mesianik di Sion/Yerusalem atas Israel (misalnya 2 Sam 7; Yes 2:2–4; 9:6–7; Yer 23:5–6; Yeh 37:24–28). Allah berjanji kepada Daud tentang takhta dan kerajaan di bumi. Untuk memelihara integritas janji-janji-Nya dan makna harfiah Kitab Suci, pemerintahan itu harus dimanifestasikan di bumi, bukan hanya secara rohani dari surga.

T: Apakah Perjanjian Daud berarti Israel etnis masih mempunyai masa depan dalam rencana Allah?

Ya. Perjanjian Daud mengandaikan keberlangsungan Israel sebagai bangsa dan pemulihan masa depannya di bawah Raja dari garis Daud. Yeremia 31:35–37 mengaitkan keberadaan kekal Israel dengan ketetapan alam semesta. Dalam Roma 11:25–27, Paulus menegaskan bahwa “seluruh Israel akan diselamatkan” ketika Sang Penebus datang dari Sion, mengaitkan keselamatan dan pemulihan Israel dengan penggenapan janji-janji perjanjian Allah.


Share Article

Pertanyaan yang Sering Diajukan

T: Apa itu Perjanjian Daud dalam istilah yang sederhana?
Perjanjian Daud adalah janji bersumpah Allah kepada Raja Daud bahwa garis keluarganya akan tetap ada, bahwa takhtanya (hak untuk memerintah) akan ditegakkan untuk selama‑lamanya, dan bahwa seorang Anak Raja dari keturunannya akan memerintah dalam kebenaran. Penggenapan tertingginya terdapat dalam Yesus Kristus, Anak Daud, yang akan memerintah dari Yerusalem dalam Kerajaan Mesianik yang akan datang.
T: Apakah Perjanjian Daud sudah digenapi di dalam gereja?
Belum. Walaupun Kristus sekarang memerintah di sebelah kanan Bapa dan gereja mengambil bagian dalam berkat rohani-Nya, janji-janji spesifik Perjanjian Daud—takhta dan kerajaan kekal yang berpusat pada Israel dan dipimpin dari takhta Daud—menuntut penggenapan duniawi di masa depan dalam Kerajaan Milenium. Perjanjian Baru tidak pernah menyebut kedudukan Kristus sekarang sebagai “takhta Daud.”
T: Bagaimana hubungan Perjanjian Daud dengan Kerajaan Milenium?
Kerajaan Milenium adalah panggung di mana Perjanjian Daud digenapi secara publik. Selama seribu tahun yang digambarkan dalam *Wahyu 20*, Kristus sebagai Anak Daud memerintah dari Yerusalem atas Israel dan bangsa-bangsa, menggenapi nubuat-nubuat Perjanjian Lama tentang Raja dari garis Daud, pemulihan Israel, serta damai dan keadilan yang mendunia.
T: Mengapa Mesias harus memerintah dari Yerusalem dan bukan hanya dari surga?
Perjanjian Daud dan para nabi berulang kali menempatkan pemerintahan Mesianik di **Sion/Yerusalem** atas **Israel** (misalnya *2 Sam 7; Yes 2:2–4; 9:6–7; Yer 23:5–6; Yeh 37:24–28*). Allah berjanji kepada Daud tentang takhta dan kerajaan di bumi. Untuk memelihara integritas janji-janji-Nya dan makna harfiah Kitab Suci, pemerintahan itu harus dimanifestasikan di bumi, bukan hanya secara rohani dari surga.
T: Apakah Perjanjian Daud berarti Israel etnis masih mempunyai masa depan dalam rencana Allah?
Ya. Perjanjian Daud mengandaikan keberlangsungan Israel sebagai bangsa dan pemulihan masa depannya di bawah Raja dari garis Daud. *Yeremia 31:35–37* mengaitkan keberadaan kekal Israel dengan ketetapan alam semesta. Dalam *Roma 11:25–27*, Paulus menegaskan bahwa “seluruh Israel akan diselamatkan” ketika Sang Penebus datang dari Sion, mengaitkan keselamatan dan pemulihan Israel dengan penggenapan janji-janji perjanjian Allah.

L. A. C.

Teolog yang mengkhususkan diri dalam eskatologi, berkomitmen untuk membantu orang percaya memahami Firman nubuatan Allah.

Artikel Terkait