Menilai Postmilenialisme: Akankah Gereja Mengkristenkan Dunia?

Eskatologi11 menit baca

1. Pendahuluan

Postmilenialisme menyatakan bahwa gereja, dikuatkan oleh Roh Kudus dan pemberitaan Injil, secara progresif akan mengkristenkan dunia sebelum Kristus kembali. Dari pembacaan Alkitab yang literal‑gramatikal dan berpijak pada pemahaman premilenial, visi ini tampak menarik tetapi pada akhirnya tidak dapat dipertahankan secara biblika.

Artikel ini akan (1) mendefinisikan postmilenialisme, (2) merangkum argumen‑argumen biblika utamanya, dan (3) memberikan kritik singkat dan berbasis Alkitab—dengan fokus pada pertanyaan: benarkah gereja akan menghadirkan suatu zaman keemasan sebelum Kedatangan Kedua Kristus?


2. Apa Itu Postmilenialisme?

Postmilenialisme mengajarkan bahwa:

  • “Milenium” dalam Wahyu 20 adalah suatu periode panjang yang bersifat simbolis, bukan seribu tahun secara harfiah.
  • Periode ini secara umum dipahami sebagai masa Gereja, atau paling tidak fase “zaman keemasan” di penghujung masa Gereja.
  • Dalam masa ini, Injil akan menang sedemikian rupa sehingga:
    • Mayoritas penduduk dunia menjadi orang Kristen.
    • Etika Kristen membentuk hukum, budaya, ekonomi, dan politik.
    • Damai, keadilan, dan kemakmuran menjadi norma global.
  • Kristus datang kembali sesudah (“post”) era milenial ini untuk:
    • Membangkitkan semua orang mati (kebangkitan umum).
    • Melaksanakan penghakiman umum.
    • Meresmikan keadaan kekal (langit yang baru dan bumi yang baru).

Sebagaimana didefinisikan secara terkenal oleh Loraine Boettner:

“
dunia pada akhirnya akan dikristenkan, dan 
 kedatangan Kristus akan terjadi pada penutup suatu periode panjang kebenaran dan damai yang lazim disebut ‘Milenium’.”

Secara historis, postmilenialisme:

  • Hampir tidak dikenal dalam gereja mula‑mula, yang sangat dominan bersifat premilenial.
  • Menjadi menonjol khususnya pada abad ke‑18 dan ke‑19, di tengah optimisme Pencerahan, kemajuan sains, ekspansi kolonial, dan perluasan misi.
  • Mengalami kemunduran besar setelah Perang Dunia I dan II, ketika peristiwa global sangat bertentangan dengan optimisme tersebut.
  • Mengalami kebangkitan terbatas dalam beberapa dekade terakhir melalui gerakan‑gerakan seperti theonomy / rekonstruksionisme Kristen, beberapa bentuk teologi dominion, dan sebagian kalangan teologi Reformed.

3. Argumen‑Argumen Biblika Utama yang Dipakai Kaum Postmilenialis

Kaum postmilenialis mengacu pada beberapa rangkaian ajaran Alkitab untuk mendukung gagasan bahwa gereja akan mengkristenkan dunia sebelum Kristus kembali.

3.1. Amanat Agung dan Keberhasilan Global Injil

Kaum postmilenialis berpendapat bahwa Matius 28:18‑20 dan Matius 24:14 bukan hanya menyiratkan pemberitaan ke seluruh dunia, tetapi juga penaklukan dunia oleh Injil:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid‑Ku
”
— Matius 28:19

Mereka berargumentasi bahwa karena Kristus memiliki “segala kuasa” dan berjanji menyertai gereja sampai akhir zaman, maka Amanat Agung harus berhasil dalam arti dominasi global—yakni dunia yang telah dikristenkan.

3.2. Perumpamaan Pertumbuhan: Biji Sesawi dan Ragi

Kaum postmilenialis mengacu pada Matius 13:31‑33:

  • Biji sesawi yang tumbuh menjadi pohon yang besar.
  • Ragi yang mengkhamiri seluruh adonan.

Mereka memahami ini sebagai pengajaran tentang perkembangan Kerajaan yang bertahap tetapi tak terelakkan sampai Kerajaan itu meresapi seluruh dunia dan lembaga‑lembaganya.

3.3. Nubuat‑nubuat “Zaman Keemasan” dalam Perjanjian Lama

Mereka menunjuk pada teks‑teks PL yang menggambarkan kebenaran dan damai yang mendunia:

  • Mazmur 72; Yesaya 2:2‑4; Yesaya 11:6‑9; Mikha 4:1‑4
  • Bilangan 14:21: “seluruh bumi akan penuh dengan kemuliaan TUHAN.”

Semua ini ditafsirkan sebagai gambaran suatu era keemasan dalam sejarah, sebelum keadaan kekal, yang dihasilkan oleh kemajuan Injil.

3.4. Teks‑teks Keselamatan yang Bersifat Mendunia

Bagian‑bagian seperti:

  • Roma 11:25‑26 (“seluruh Israel akan diselamatkan”),
  • Wahyu 7:9‑10 (suatu kumpulan besar dari segala bangsa),

digunakan untuk menyiratkan bahwa mayoritas umat manusia, bukan hanya suatu sisa kecil, pada akhirnya akan beriman.

3.5. Penafsiran Simbolis atas “Seribu Tahun”

Kaum postmilenialis sependapat dengan kaum amilenialis bahwa Wahyu 20 bersifat simbolis:

  • “Seribu tahun” = suatu masa panjang yang lengkap, bukan durasi literal.
  • “Pengikatan” Iblis (Why 20:1‑3) dipahami sebagai berkurangnya pengaruh Iblis secara bertahap seiring kemajuan Injil.

4. Masalah‑Masalah Biblika dan Teologis dalam Postmilenialisme

Dari sudut pandang pembacaan Alkitab yang literal‑gramatikal dan premilenial, muncul beberapa kesulitan mendasar.

4.1. Waktu dan Sifat Kerajaan

Postmilenialisme menempatkan puncak kemenangan Kerajaan sebelum Kedatangan Kedua Kristus. Padahal Perjanjian Baru secara konsisten mengaitkan pemerintahan Kristus yang nyata dan kelihatan atas bangsa‑bangsa dengan kedatangan‑Nya kembali dalam kemuliaan:

  • Dalam Kisah Para Rasul 1:6‑7, para murid bertanya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Yesus tidak menolak gagasan pemulihan di masa depan; Ia hanya menolak memberi tahu mereka waktunya, lalu mengutus mereka sebagai saksi dalam masa sekarang.
  • Matius 19:28 dan Lukas 22:28‑30 menjanjikan para rasul akan duduk di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel—sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam sejarah gereja, tetapi sangat selaras dengan pemerintahan bumi di masa depan.
  • Wahyu 19–20 menyajikan urutan yang jelas:
    • Kedatangan Kristus secara kelihatan dan penghancuran musuh‑musuh‑Nya (Why 19:11‑21).
    • Lalu (20:1) Iblis diikat seribu tahun.
    • Orang‑orang kudus yang dibangkitkan memerintah bersama Kristus selama periode itu (20:4‑6).
    • Baru sesudah milenium ini terjadi pemberontakan terakhir, penghakiman terakhir, dan keadaan kekal.

Pembacaan yang paling wajar adalah bahwa milenium mengikuti kedatangan Kristus—bukan mendahuluinya dan bukan dihasilkan oleh usaha gereja.

4.2. Pengikatan Iblis

Kaum postmilenialis menyatakan bahwa Iblis kini sudah terikat sedemikian rupa sehingga ia tidak dapat lagi “menyesatkan bangsa‑bangsa” (Why 20:3), sehingga memungkinkan kemenangan global Injil.

Namun hal ini bertentangan dengan gambaran Perjanjian Baru mengenai aktivitas Iblis saat ini:

  • Ia adalah “ilah zaman ini” yang membutakan pikiran orang‑orang yang tidak percaya (2 Korintus 4:4).
  • Ia berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum‑aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5:8).
  • Ia disebut “yang menyesatkan seluruh dunia” (Wahyu 12:9), dan penyesatannya justru semakin intensif pada hari‑hari terakhir (bdk. 2 Tesalonika 2:9‑10).

Bahasa Wahyu 20:1‑3—dilemparkan ke dalam jurang maut, ditutup dan dimeteraikan di atasnya—melukiskan penghilangan total dari pengaruh di bumi, bukan pembatasan sebagian. Belum pernah terjadi dalam sejarah bahwa hal semacam ini terlaksana. Menyebut masa sekarang sebagai masa ketika Iblis “tidak menyesatkan lagi bangsa‑bangsa” (Why 20:3) adalah sesuatu yang secara eksegesis tidak dapat dipertahankan.

4.3. Apakah Dunia Sedang Menjadi Lebih Baik?

Postmilenialisme ditandai oleh pandangan optimistis terhadap sejarah: Injil akan sedemikian rupa mengubah masyarakat sehingga kejahatan menjadi marjinal.

Namun bagian‑bagian kunci Perjanjian Baru justru menubuatkan semakin meningkatnya kejahatan dan murtad sebelum Kristus datang kembali:

  • Matius 7:13‑14: hanya sedikit yang masuk melalui pintu yang sesak; banyak yang menuju kebinasaan.
  • Matius 24:4‑12: penyesatan, kedurhakaan, dan penganiayaan meningkat; “kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.”
  • Lukas 18:8: “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”
  • 2 Timotius 3:1‑5, 12‑13: “Pada hari‑hari terakhir akan datang masa yang sukar
 orang jahat dan penipu akan bertambah jahat.”
  • 2 Tesalonika 2:3‑4: sebelum hari Tuhan tiba akan terjadi “pemberontakan” (murtad) dan penyingkapan “manusia durhaka”.

Kitab Wahyu juga menggambarkan bangsa‑bangsa yang mengamuk, penganiayaan terhadap orang‑orang kudus yang semakin hebat, dan penghakiman global yang turun sebelum Kristus datang dalam kemuliaan—bukan peradaban Kristen yang stabil.

Allah memang dapat mengaruniakan musim‑musim kebangunan rohani dan dampak sosial yang lokal maupun luas, tetapi tidak ada dasar biblika yang kuat untuk mengharapkan suatu zaman keemasan Kristen berskala dunia sebelum Kristus datang kembali.

4.4. Struktur Kebangkitan dan Penghakiman

Postmilenialisme menyatukan kebangkitan dan penghakiman menjadi suatu peristiwa umum tunggal di akhir sejarah. Dalam hal ini, mereka harus menafsirkan kembali Wahyu 20:

  • “Kebangkitan pertama” (20:4‑6) dianggap sebagai kebangkitan rohani (pertobatan atau masuknya orang percaya ke surga).
  • “Orang‑orang mati yang lain” yang hidup kembali (20:5) dianggap sebagai satu‑satunya kebangkitan jasmani.

Namun penafsiran ini sangat dipaksakan:

  • Kata kerja yang sama “hidup kembali” (ezēsan) digunakan untuk kedua kelompok (20:4 dan 20:5).
  • Kata benda “kebangkitan” (anastasis, ay. 5) digunakan 41 dari 42 kali dalam PB untuk kebangkitan jasmani.
  • Tidak ada petunjuk dalam konteks yang menyiratkan perubahan makna dari rohani menjadi jasmani.

Pembacaan yang langsung dan wajar adalah: terdapat dua kebangkitan jasmani yang dipisahkan oleh masa milenium—pertama kebangkitan orang‑orang percaya untuk memerintah bersama Kristus, kemudian kebangkitan orang‑orang yang tidak percaya untuk penghakiman terakhir. Pola ini selaras dengan premilenialisme, bukan postmilenialisme.

4.5. Israel, Gereja, dan Perjanjian‑perjanjian Allah

Sebagian besar penganut postmilenialisme, yang berdiri dalam tradisi teologi perjanjian, mengaburkan atau menggabungkan perbedaan antara Israel dan gereja:

  • Janji tentang tanah dan kerajaan kepada Abraham dan Daud dikatakan digenapi secara rohani di dalam gereja.
  • Dengan demikian, tidak dipandang perlu adanya pemerintahan Kristus di bumi pada masa depan di mana Israel nasional dipulihkan.

Namun Alkitab memperlakukan perjanjian Abrahamik dan Daudik sebagai tidak bersyarat dan tidak dapat dibatalkan:

  • Tanah itu dijanjikan sebagai “kepunyaan untuk selama‑lamanya” bagi keturunan Abraham (Kejadian 17:7‑8).
  • Allah bersumpah bahwa takhta dan dinasti Daud akan ditegakkan untuk selama‑lamanya (2 Samuel 7:12‑16; Mazmur 89:30‑37).
  • Paulus menegaskan bahwa pengerasan atas Israel saat ini adalah sementara dan bahwa “karunia‑karunia dan panggilan Allah tidak dapat ditarik kembali” (Roma 11:25‑29).

Penggenapan literal dari perjanjian‑perjanjian ini—Kristus memerintah dari takhta Daud di Yerusalem, Israel dipulihkan dan diberkati di tengah bangsa‑bangsa—secara alami cocok dengan suatu Kerajaan Seribu Tahun di masa depan, bukan dengan zaman keemasan yang dihasilkan gereja sebelum Kristus kembali.

4.6. Hermeneutik: Penggenapan Literal vs. Spiritualitasasi

Postmilenialisme bergantung pada spiritualisasi selektif terhadap teks‑teks profetik:

  • Janji‑janji Kerajaan dalam PL ditafsirkan ulang sebagai sebagian besar telah digenapi di dalam gereja pada masa kini.
  • “Seribu tahun” dalam Wahyu 20 dipandang simbolis, sementara angka‑angka lain (144.000; 1.260 hari; 42 bulan) sering diperlakukan secara literal atau setidaknya definitif.

Namun pola penggenapan biblika itu sendiri sangat berbicara:

  • Nubuat‑nubuat tentang kedatangan Kristus yang pertama (Betlehem, kelahiran dari perawan, garis keturunan Daud, penderitaan, kebangkitan) digenapi secara literal.
  • Secara metodologis, wajar untuk mengharapkan bahwa nubuat‑nubuat tentang Kedatangan Kedua dan Kerajaan pun digenapi dengan cara yang sama—kedatangan yang literal, pemerintahan yang literal, pemulihan yang literal.

Ketika makna harfiah memberikan gambaran eskatologis yang koheren (sebagaimana dalam premilenialisme), ketergantungan pada spiritualisasi yang luas bukan saja tidak perlu, tetapi juga mengaburkan makna teks.


5. Implikasi Praktis: Misi Tanpa Ilusi

Mengkritik postmilenialisme bukanlah kritik terhadap:

  • Semangat untuk misi,
  • Kerinduan akan transformasi budaya,
  • Keyakinan akan kuasa Injil.

Dari sudut pandang premilenial, gereja dipanggil untuk memberitakan Injil kepada segala bangsa, mempengaruhi masyarakat menuju kebenaran, dan menjadi “garam” serta “terang” di tengah dunia yang membusuk—tanpa ilusi bahwa kita akan menghadirkan Kerajaan melalui sarana politik atau budaya.

Alkitab mengarahkan pengharapan tertinggi kita bukan kepada peradaban yang dibangun gereja, melainkan kepada kedatangan pribadi dan pemerintahan Kristus:

“
mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.”
— Wahyu 5:10

“
mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama‑sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun.”
— Wahyu 20:4


6. Kesimpulan

Postmilenialisme menawarkan visi yang menggebu: dunia yang dikristenkan melalui keberhasilan Injil, lalu kedatangan Kristus menyusul sesudahnya. Namun ketika diuji dengan pembacaan Alkitab yang konsisten dan literal, tampak sejumlah masalah mendasar:

  • Manifestasi puncak Kerajaan dihubungkan dengan kedatangan Kristus, bukan dengan kemajuan sejarah secara bertahap.
  • Iblis saat ini belum diikat dalam arti total sebagaimana digambarkan dalam Wahyu 20.
  • Perjanjian Baru justru menubuatkan semakin meningkatnya penyesatan dan kemurtadan, bukan dunia yang terus‑menerus membaik.
  • Wahyu 20 mengajarkan dua kebangkitan jasmani yang dipisahkan oleh masa milenium, bukan satu kebangkitan umum.
  • Perjanjian Abrahamik dan Daudik masih menantikan penggenapan penuh dan literalnya dalam Kerajaan bumi yang akan datang.

Gereja memang dipanggil untuk bekerja, berdoa, dan menderita demi kemajuan Injil di setiap bangsa. Namun harapan akan suatu tatanan global yang benar‑benar adil dan kudus tidak bertumpu pada penaklukan budaya oleh gereja, melainkan pada penampakan Sang Raja yang akan secara pribadi menegakkan pemerintahan‑Nya di bumi.

“Karena Ia harus berkuasa sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh‑Nya di bawah kaki‑Nya.”
— 1 Korintus 15:25

Pemerintahan itu, dalam kepenuhannya, menantikan Kedatangan‑Nya—bukan keberhasilan kita.


FAQ

T: Apakah mengkritik postmilenialisme berarti kita harus pesimistis terhadap misi dan budaya?

Tidak. Perjanjian Baru memerintahkan penginjilan global dan memanggil orang percaya untuk menjadi garam dan terang dalam setiap bidang kehidupan. Kritik ini bukan ditujukan pada usaha, melainkan pada ekspektasi bahwa gereja akan menciptakan suatu tatanan global yang hampir utopis sebelum Kristus datang kembali. Kita bekerja dengan setia, tetapi kita menyerahkan penegakan final Kerajaan kepada Raja yang akan datang.

T: Apa perbedaan postmilenialisme dengan amilenialisme?

Keduanya memandang “seribu tahun” dalam Wahyu 20 sebagai simbolis dan sedang berlangsung pada masa kini, bukan di masa depan. Perbedaan utama adalah soal optimisme: postmilenialisme mengharapkan Injil akan mengkristenkan dunia, sedangkan amilenialisme umumnya mengharapkan konflik yang berkelanjutan antara yang baik dan yang jahat sampai Kristus datang, tanpa adanya zaman keemasan sebelum parousia (Kedatangan Kedua).

T: Apakah postmilenialisme termasuk ajaran sesat?

Secara historis, postmilenialisme dianut oleh sejumlah teolog yang secara umum ortodoks dan lebih tepat digolongkan sebagai suatu kekeliruan serius, bukan ajaran sesat yang mendatangkan kebinasaan. Postmilenialisme salah membaca teks‑teks nubuat yang penting dan menumbuhkan ekspektasi yang tidak realistis tentang jalannya sejarah, tetapi tidak serta‑merta menolak doktrin‑doktrin inti seperti keAllahan Kristus, Tritunggal, atau pembenaran oleh iman.

T: Apa masalah biblika utama dalam postmilenialisme?

Isu sentralnya adalah penempatan waktu kemenangan Kerajaan—yaitu menempatkan kemenangan puncak Kerajaan sebelum Kedatangan Kedua Kristus, alih‑alih sebagai akibat langsung dari kedatangan itu. Hal ini memaksa postmilenialisme untuk menafsirkan ulang pengikatan Iblis, gambaran kemurtadan akhir zaman, dan struktur kebangkitan dalam Wahyu 20 dengan cara yang bertentangan dengan makna literal teks.

T: Jika gereja tidak akan mengkristenkan dunia, apa peran kita dalam sejarah?

Panggilan gereja adalah memberitakan Kristus, memuridkan segala bangsa, menanam dan menguatkan jemaat, serta hidup kudus yang memantulkan Kerajaan yang akan datang. Kita harus bekerja demi keadilan, belas kasihan, dan kebenaran dalam setiap ranah, dengan keyakinan bahwa jerih lelah kita tidak sia‑sia—namun kita menyadari bahwa hanya Kristus yang kembali kelak yang akan secara tuntas menaklukkan semua musuh dan menegakkan kebenaran yang sempurna di bumi.

Share Article

Pertanyaan yang Sering Diajukan

T: Apakah mengkritik postmilenialisme berarti kita harus pesimistis terhadap misi dan budaya?
Tidak. Perjanjian Baru memerintahkan penginjilan global dan memanggil orang percaya untuk menjadi garam dan terang dalam setiap bidang kehidupan. Kritik ini bukan ditujukan pada **usaha**, melainkan pada **ekspektasi** bahwa gereja akan menciptakan suatu tatanan global yang hampir utopis sebelum Kristus datang kembali. Kita bekerja dengan setia, tetapi kita menyerahkan penegakan final Kerajaan kepada Raja yang akan datang.
T: Apa perbedaan postmilenialisme dengan amilenialisme?
Keduanya memandang “seribu tahun” dalam *Wahyu 20* sebagai simbolis dan sedang berlangsung pada masa kini, bukan di masa depan. Perbedaan utama adalah soal **optimisme**: postmilenialisme mengharapkan Injil akan **mengkristenkan dunia**, sedangkan amilenialisme umumnya mengharapkan konflik yang berkelanjutan antara yang baik dan yang jahat sampai Kristus datang, tanpa adanya zaman keemasan sebelum parousia (Kedatangan Kedua).
T: Apakah postmilenialisme termasuk ajaran sesat?
Secara historis, postmilenialisme dianut oleh sejumlah teolog yang secara umum ortodoks dan lebih tepat digolongkan sebagai suatu **kekeliruan serius**, bukan ajaran sesat yang mendatangkan kebinasaan. Postmilenialisme salah membaca teks‑teks nubuat yang penting dan menumbuhkan ekspektasi yang tidak realistis tentang jalannya sejarah, tetapi tidak serta‑merta menolak doktrin‑doktrin inti seperti keAllahan Kristus, Tritunggal, atau pembenaran oleh iman.
T: Apa masalah biblika utama dalam postmilenialisme?
Isu sentralnya adalah **penempatan waktu kemenangan Kerajaan**—yaitu menempatkan kemenangan puncak Kerajaan **sebelum** Kedatangan Kedua Kristus, alih‑alih sebagai akibat langsung dari kedatangan itu. Hal ini memaksa postmilenialisme untuk menafsirkan ulang pengikatan Iblis, gambaran kemurtadan akhir zaman, dan struktur kebangkitan dalam *Wahyu 20* dengan cara yang bertentangan dengan makna literal teks.
T: Jika gereja tidak akan mengkristenkan dunia, apa peran kita dalam sejarah?
Panggilan gereja adalah **memberitakan Kristus, memuridkan segala bangsa, menanam dan menguatkan jemaat, serta hidup kudus** yang memantulkan Kerajaan yang akan datang. Kita harus bekerja demi keadilan, belas kasihan, dan kebenaran dalam setiap ranah, dengan keyakinan bahwa jerih lelah kita tidak sia‑sia—namun kita menyadari bahwa hanya Kristus yang kembali kelak yang akan secara tuntas menaklukkan semua musuh dan menegakkan kebenaran yang sempurna di bumi.

L. A. C.

Teolog yang mengkhususkan diri dalam eskatologi, berkomitmen untuk membantu orang percaya memahami Firman nubuatan Allah.

Artikel Terkait